Abducting...Sequestering
Kidnnaping the patients
Hospital Thieves!
Hospital Thieves!
Bandits in bloody scrubs
Hospital Thieves!
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts
May 23, 2012
November 30, 2006
Karena kau fana
karena kau fana, kulesapkan wajahmu dalam-dalam
di kelopak mata
sebelum akhirnya waktu memintamu
di sebuah musim gugur
ketika sepasang angsa putih menepi
memberi jalan bagi wangi melati
di sebuah telaga yang tak henti-henti kuselami
biarlah, biarlah,
bunga yang luruh menyuburkan kenangan
keindahan itu ada dalam kesementaraan
June 22, 2006
Kutulis Senyummu Sebagai Warna yang Hilang
Kulukis senyummu sebagai warna yang hilang. Keping-keping rahasia menjangkau dadaku. Akupun berdendang dalam palung terdalam. Menarikan cinta bergaram sepi dan kecemasan. (Dan sungguh tahu sebatang igaku telah hilang). Sementara kau terus nyalakan
kata membakari dusta. Hingga leleh karat topeng-topeng. Bebungaan tumbuh mengiringmu. Langkahmu pun menjelma tarian benderang, lebih dari sekedar rintik hujan. Menepikan kenakalanku. Akulah sepi,
setebah bumi yang dahaga. Kulihat langit merendah mengibar kerudungmu.
Dan kubaca milyaran pagar terentang bagi gunung-gunung angkaku yang meliar. Hingga kutuntun seutas sungai airmata menempuh ujung kerudungmu. Jazirah dimana cecahya terbit memadamkan tawa yang dikirim ocehan radio, internet, televisi, dan lampu-lampu. Dan terus kulukis senyummu sebagai warna yang hilang. Sebab sumur-sumur sekarat di hatiku. Lihatlah, aku mengerang! Mengerang?
kata membakari dusta. Hingga leleh karat topeng-topeng. Bebungaan tumbuh mengiringmu. Langkahmu pun menjelma tarian benderang, lebih dari sekedar rintik hujan. Menepikan kenakalanku. Akulah sepi,
setebah bumi yang dahaga. Kulihat langit merendah mengibar kerudungmu.
Dan kubaca milyaran pagar terentang bagi gunung-gunung angkaku yang meliar. Hingga kutuntun seutas sungai airmata menempuh ujung kerudungmu. Jazirah dimana cecahya terbit memadamkan tawa yang dikirim ocehan radio, internet, televisi, dan lampu-lampu. Dan terus kulukis senyummu sebagai warna yang hilang. Sebab sumur-sumur sekarat di hatiku. Lihatlah, aku mengerang! Mengerang?
Subscribe to:
Posts (Atom)